Kritik Faisal Basri masalah Pengelolaan BUMN

Ekonom dari Kampus Indonesia Faisal Basri mengkritik gagasan Kementerian BUMN membuat holding (induk perusahaan) BUMN. Faisal memprediksi, pembentukan holding BUMN malah juga akan mengecilkan penerimaan pajak negara.

“Semakin besar taraf BUMN, jadi juga akan makin rendah pembayaran pajaknya, ” kata Faisal di Jakarta, Kamis (19/10/2017).

Diluar itu, dia juga berasumsi pemerintah berikan banyak pekerjaan pada perusahaan-perusahaan pelat merah. Misalnya, PT PLN yang ditugaskan membuat transmisi jaringan listrik. Menurut Faisal, pekerjaan itu semestinya jadi tanggung jawab Kementerian ESDM.

Lalu PT Kereta Api Indonesia yang ditugaskan jadi operator light rail transit (LRT) Jakarta serta menolong pendanaannya. Ini buat BUMN pada akhirnya mencari utang hingga labanya alami penurunan.

” Belum juga Pertamina disuruh jual harga BBM yang sama rata di Indonesia, atau PT Perusahaan Gas Negara (PGN) yang dipaksa jual gas 6 dollar Amerika per MMBTU yang pada akhirnya mesti memikul penugasan dari kas sendiri. Implikasinya, pembayaran pajak serta devidennya semakin kecil, ” kata Faisal.

Bahkan juga, pria yang sempat mencalonkan diri jadi Gubernur DKI Jakarta pada Pilkada 2012 itu bercanda pemerintah tambah baik tutup BUMN serta menggantinya jadi pabrik rokok.

Sebab, pabrik rokok menyumbang penerimaan cukai hasil tembakau (CHT) yang selalu bertambah setiap tahunnya. Th. 2016, kata dia, penerimaan cukai rokok di Indonesia sekitaran Rp 139, 5 triliun. Sedang keseluruhan dividen BUMN cuma Rp 34, 2 triliun.

” Laba BUMN senantiasa turun karena terus menerus ‘diperkosa’ serta ‘diinjak’ lewat penugasan pemerintah. Tambah baik tutup saja BUMN nya serta jadikan pabrik rokok, ” kata Faisal.

Terlebih dulu, Menteri BUMN Rini Soemarno meyakinkan persiapan tehnis pembentukan holding oleh Kementerian BUMN telah menjangkau step final. Ia membidik dua holding BUMN yang bergerak di bidang migas serta tambang juga akan terjadi di kuartal IV 2017.

Setelah itu pada 2018, Rini juga meyakinkan ada empat holding BUMN terjadi yakni perbankan, konstruksi, jalan tol, serta perumahan. Menurut Rini, hal yang mengakibatkan pembentukan holding memerlukan saat lama yaitu menyamai pemikiran serta persepsi diantara perusahaan BUMN.