Investasi Otomotif Diprediksi Melambat

teknologi otomotif

Tubuh Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) memperkirakan investasi industri otomotif th. ini tak segencar th. lantas. Kepala BKPM Mahendra Siregar memprediksi investasi otomotif th. ini tetap masih tumbuh walau dalam level moderat. ” Th. lantas investasi otomotif tumbuh 120 %. Th. ini tetaplah tumbuh, walau akan tidak sekuat th. lantas, ” tuturnya di Karawang tempo hari.

BKPM mencatat investasi di bidang otomotif th. lantas meraih US$ 3, 7 miliar, tumbuh 120 % dibanding dengan 2012 yang sebesar US$ 1, 68 miliar. Selama 2010-2013, investasi di bidang ini sudah tumbuh 10 kali lipat. Th. lantas penanaman modal asing di bidang otomotif meraih 570 proyek, sesaat penanaman modal dalam negeri cuma 57 unit.

Menurut Mahendra, perkembangan investasi th. ini akan tidak melebihi 100 % lantaran banyak pabrik yang telah merealisasi investasinya th. lantas. Karenanya, pemerintah saat ini fokus pada perbaikan fasilitas serta infrastruktur. ” Itu mesti didorong serta direalisasi supaya dapat menarik investasi, termasuk juga gagasan pembangunan pelabuhan baru. ”

Tetapi BKPM mengerti, dalam kurun tiga-lima th. ke depan, pemerintah mesti mempersiapkan kiat untuk menyeimbangkan industri otomotif diluar Jawa Barat, terlebih di Jawa Berencana serta Jawa Timur. ” Mesti diketemukan alternatif lain. Mungkin saja pengembangan ke Jawa Berencana serta Jawa Timur, ” katanya.

Menteri Perindustrian Mohamad Suleman Hidayat memperkirakan perkembangan industri otomotif 2014 bakal meraih 13 %, dengan nilai investasi kian lebih US$ 4 miliar.

Ia optimistis perkembangan penjualan mobil di Indonesia bakal melebihi 1, 3 juta unit, yang dipicu oleh realisasi investasi. ” Penjualan kendaraan bermotor roda empat pada 2013 meraih 1, 2 juta unit. Angka ini selalu bertambah sesuai sama perekonomian Indonesia, ” tuturnya pada saat yang sama. Perkembangan bidang otomotif serta bidang pengangkutan terdaftar sebagai yang paling tinggi.

PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia menyebutkan keadaan ekonomi yang kurang untungkan, terutama dengan pelemahan nilai ganti rupiah, tak menghalangi realisasi investasi perusahaannya. Ini dapat dibuktikan dengan groundbreaking pabrik mesin ke-2 Toyota yang dikerjakan tempo hari di Karawang Jawa barat Industry Estate.

” Semuanya persiapan telah usai. Kami bakal selekasnya merealisasi pembangunan fisik pabrik mesin ke-2 di Indonesia, ” tutur Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia Masahiro Nonami di Karawang tempo hari.

Pabrik yang bakal beroperasi pada 2016 ini tempati tempat seluas 150 hektare. Nilai investasinya meraih Rp 2, 3 triliun serta diinginkan menyerap kian lebih 600 tenaga kerja.

Nonami menyampaikan hadirnya pabrik ini bakal menunjukkan kalau Indonesia tidak cuma memiliki prospek pasar, namun juga mempunyai potensi yang besar sebagai negara maksud investasi manufaktur berteknologi tinggi. ” Ini dapat jadi tanda yang kuat kalau industri manufaktur Indonesia sudah siap serta dapat jadi lokomotif perkembangan ekonomi ke depan dengan nilai lebih tinggi, ” tuturnya.

Menurut Nonami, kesiapan industri manufaktur jadi hal yang utama dalam usaha hindari jebakan kelas menengah. Untuk hindari jebakan kelas menengah, Indonesia sampai 2030 mesti menyebabkan perkembangan investasi hingga 40 % per th. serta tingkatkan industri berbasiskan tehnologi tinggi. Toyota menilainya kesempatan paling besar yaitu lewat industri otomotif. ANANDA TERESIA, RACHMA TRI WIDURI